#LingTrip Menghabiskan Kuota 100 GB di Singapura

Saat bepergian saya kadang lebih memilih untuk membeli nomor lokal ketimbang mengaktifkan roaming. Kebetulan pekerjaan juga mengharuskan untuk bisa online sehingga mudah dihubungi (meski kaminya sedang liburan). Selain dengan membeli nomor lokal ada pilihan untuk sewa modem di Changi Airport, tapi karena saya belum pernah coba, jadi belum bisa kasih testimonial juga.

Kebetulan saya masih dan selalu menyimpan nomor lokal yang pernah dibeli, sayangnya saya lupa top-up dan nomor tersebut expired. *sigh* Dan demi tetap bisa internetan di Singapura, akhirnya beli kartu perdana lagi. :))

Tapi membeli kartu perdana di Singapura cukup mudah sih, begitu mendarat di sana tinggal cari counter khususnya di Changi Airport, bisa juga dibeli di 7-eleven dan Cheers.
Kartu Perdana Singapura
Terakhir cek masih sisa kuota 96GB -_-" 

Sampai di counter bisa tanya ke penjualnya kartu apa yang direkomendasikan untuk dipakai selama berapa hari, kebetulan waktu di Cheers kemarin yang jaga kasir anak muda dan dia merekomendasikan untuk membeli hi!Touristsimcards dari Singtel. Ada dua pilihan kartu, yang dibedakan dari waktu stay kamu di Singapura. Kartu dengan harga 15SGD untuk kamu yang stay selama 5 hari di sana, lalu ada kartu yang harganya 30SGD untuk yang stay 10hari.

Kartu Perdana Singapura
hi!touristsimcards
Local data yang diberikan cukup besar, 100GB untuk lima/ sepuluh hari. Kuota data melimpah ditambah dengan kuota untuk menelpon internasional selama minimal 30 menit. Sayangnya promo 100GB ini hanya berlaku sampai 31 Desember 2015. Tapi kuota 100Gb itu juga ga bakal habis sih untuk 5 hari sih, ya kan? Kemarin waktu pulang kami sedih aja melihat sisa kuota masih 90-an GB, tapi bingung mau ngapain lagi biar bisa habis. :))


Kamu liburan akhir tahun mau kemana?


-----
Tulisan tentang Singapura lainnya bisa dibaca di sini.

#LingTrip Lima hal menyebalkan yang ditemui saat naik pesawat

Penumpang pesawat yang menyebalkan

Saya cukup sering bolak- balik naik pesawat, entah itu travelling atau berkunjung ke rumah orang tua. Kali ini pingin sedikit curhat soal pengalaman menyebalkan yang sering saya temui ketika naik pesawat. Harga tiket pesawat yang sudah lebih terjangkau membuat penumpangnya juga jadi lebih beragam. Nah terkadang ada beberapa dari mereka yang entah sadar atau tidak melakukan hal yang sebenarnya cukup mengganggu.

1. Bau badan menyengat di penerbangan pagi hari
Memang sih penerbangan pertama itu membuat kita harus berangkat sebelum subuh ke bandara. Untuk membuka mata saja butuh perjuangan, apalagi kalau harus mandi. Saya sendiri malas, tapi ya ga bangun tidur, cuci muka dan langsung cus ke bandara juga. Setidaknya tetap harus pakai pakaian bersih sampai sedaleman, dan bagian vital yang biasanya mengeluarkan bau-bauan dilap dengan tisue basah. Jangan egois dan mengganggu kenyamanan manusia yang bakal duduk di sebelah kamu nantinya. 

2. Mengobrol dengan suara keras
Ini saya sering banget ketemu ketika ada penumpang yang perginya satu rombongan. Langsung merasa satu pesawat milik satu grup itu saja. Sebagai orang yang memanfaatkan sebagian besar waktu di pesawat dengan tidur untuk meminimalisir efek mabok, saya sangat keganggu dengan tipikal penumpang yang berisik kayak gitu. 
Pernah suatu ketika penerbangan saya ditunda, karena cuaca di kota yang akan didatangi sedang tidak bagus. Ketika akhirnya bisa boarding ada penumpang yang sejak dari antrian masuk mengomel tiada henti. Bahkan sampai ketika duduk di kursinya. Sepanjang pramugari menjelaskan ini itu, beliau terus-terusan mengeluarkan statement yang menurut saya ga penting, dan cenderung memprovokasi. Herannya beliau berkata bahwa dulunya pernah bekerja di maskapai juga, namun kok sikapnya kayak gitu ya? :|

3.Terburu-buru melepaskan sabuk pengaman
Pesawat baru saja landing, langsung beberapa suara klik penumpang yang melepaskan sabuk pengaman terdengar. Padahal tiap kali sebelum mendarat sudah ada pemberitahuan untuk menunggu lampu tanda sabuk pengaman mati, baru boleh melepaskan sabuk tersebut. Kenapa ga bersabar sih, toh pesawatnya juga masih mau parkir dulu. Ga bakal diturunin di tengah jalan kok. :|

4. Terburu-buru ingin turun dari pesawat
Ini kelanjutan dari yang poin ketiga, ketika pesawat akhirnya parkir munculah ketidaksabaran beberapa penumpang yang ingin segera turun. Mereka langsung menyegerakan diri mengambil barang bawaan di bagasi kabin, kemudian diam di lorong karena pintu pesawat belum dibuka. Posisi diam berdiri di lorong maupun di depan kursinya sambil membawa koper serta bawaan lainnya itu minimal akan berlangsung selama 10-20 menit. Menunggu tangga terpasang hingga akhirnya pintu pesawat terbuka, belum lagi antrian untuk turun apabila pintu yang dibuka hanya satu. Entah kenapa beliau-beliau ini doyan sekali terburu-buru seperti itu. :|

5. Menyalakan handphone ketika pesawat baru saja landing
Setiap kali ketika akhirnya pesawat mendarat ada instruksi untuk tetap duduk tenang sampai lampu sabuk pengaman mati, dan penumpang masih belum diperbolehkan menyalakan handphone. Pilot masih harus berkomunikasi dengan ATC meski sudah mendarat di bumi, itu sebabnya selalu ada peringatan untuk menyalakan handphone hanya ketika sudah berada di terminal bandara.


Naik pesawat tetap menyenangkan meski juga melelahkan. Pengalaman bertemu orang-orang menyebalkan seperti di atas semacam jadi pengingat ke diri sendiri untuk jangan mencontoh mereka. Lima hal di atas saya rangkum berdasar pengalaman, ada yang punya pengalaman yang sama? Atau mau menambahkan?

#LingTrip Staycation di Royal Kuningan Hotel Jakarta

Menyambung tulisan saya tentang Menghemat Budget Liburan, trial aplikasi menawar harga hotel di lokasi yang masih disekitaran Jakarta. Pas banget waktu itu layanan TV lagi mati, daripada bengong kan mendingan ngungsi.

Kali ini saya menginap di Royal Kuningan Hotel, hotel bintang empat yang letaknya di daerah Setiabudi Jakarta.  Saya datang kesana sekitar jam dua siang, pas banget jamnya orang pada check-in/ check out. Benar juga, sampai sana hotelnya lumayan ramai dan ternyata lagi ada acara corporate. :))

Lobby yang luasssss

Resepsionis terletak di lantai dua, begitu sampai kami langsung naik dengan eskalator. Antrian resepsionis lumayan ramai, saya memilih duduk sambil nungguin antrian buat check in. Ruang lobbynya cukup luas, tersedia beberapa sofa untuk yang menunggu. Kami menunggu agak lama karena ternyata layanan online si hotel sedang.. mati! Hahaha untunglah setelah setengah jam, kamipun akhirnya bisa check in meskipun kamarnya engga yang kasurnya besar.

Welcome drink! ; Menuju Resepsionis
Dari awal masuk, hotel ini terlihat mewah dengan interiornya. Kamar yang saya tempati pun memiliki luas yang cukup dan furniture nya bagus. Kamar mandinya lux dengan interior yang tidak berlebihan. Salah satu yang menarik di sini itu jendelanya besar dan ada cahaya matahari masuk, favorit! Oh iya lemari pakaiannya punya pintu yang conecting ke kamar mandi lho, mungkin biar ga perlu repot bawa pakaian ketika mandi. Tinggal buka pintu lemari yang nyambung sama tempat tidur.

Dapat yang twin bed & sofa sudut; meja buat kerja dan TV ; lemari pakaian ; kulkas
Kamar mandi punya pintu khusus yang nyambung dengan lemari pakaian.
Hotel ini memiliki kolam renang, namun saya lupa pastinya ada di lantai berapa. Kolam renangnya cukup besar dan tidak terlalu dalam. Saya sih puas kecipukan di sini. Oh iya kamu bisa pinjam handuk khusus ketika berenang, ruang gantinya juga pas di depan kolam renang.
view dari kolam renang
Mari berenang! \o/
Rencana awal kami mengungsi ke hotel kan karena mau numpang wifi, tapi ternyata di sana ada wifi tapi ternyata lelet banget, kalau pakai LAN harus bayar lagi. Royal Kuningan Hotel ini katanya dulu bekas apartement, lokasinya di ujung Kuningan dan di sekitarnya ga banyak bangunan lain. :|
Jadi ketika makan malam, pilihan terdekat kami ya ke Plaza Festiva, naik taksi sekitar 15-20rb sekali jalan. Ada juga Setiabudi One atau kalau mau ke Epiwalk, tapi saya malas mutar-mutar. Kalau malas kemana-mana ada mereka punya dua restoran kok, di lantai satu dan dua.

Pagi harinya ketika sarapan saya sudah ngerasa sih bakal ramai, karena memang sedang ada acara rombongan di sana. Tapi saya ga membayangkan akan se-chaos kemarin. Restoran menyediakan sarapan yang cukup beragam, dari segi rasa ada yang kacau, namun ada juga yang lumayan tapi mungkin ini masalah selera. Nah sepertinya mereka salah perhitungan mengenai menu makanan yang harus disajikan. Belum jam sembilan pagi banyak makanan yang kosong, sampai ada tamu yang marah-marah karena mereka tidak kebagian makanan.

Secara keseluruhan saya cukup puas menginap di sini, kalau di score sekitar 7 dari 10. Lokasinya yang cukup dekat dengan pusat Jakarta namun harganya tidak terlalu mahal. Tertarik untuk menginap di sini? Kalau mau rate yang agak bersahabat tinggal cobain cara seperti ini atau ini. ;)
view dari Jendela kamar, genangan itu danau buatan akibat pembangunan yang entah kapan dilanjut.


-----
Royal Kuningan Hotel
Jl. Kuningan Persada kav. 2, Setiabudi , Jakarta 12980
Telp: 021 2938 0738
Web | Facebook ! Twitter | Instagram

Belajar Reksa Dana di IPOTPAY Fund Talk with Millennials


Dari dulu ingin mencoba transaksi reksa dana, tapi selalu bingung indikator apa saja sih yang harus dilihat ketika akan bertransaksi? Atau pertanyaan paling umum biasanya, "Mana yang harus saya beli supaya untung?"

Reksa dana sampai saat ini masih menjadi salah satu bentuk investasi paling sederhana dan generik di pasar modal. Setidaknya tidak serumit saham di pasar modal, meski sebenarnya indikator yang diperhatikan juga ga jauh beda.
Biar belajar reksa dananya lebih khatam, mari belajar langsung ke para ahlinya.

Ada Liyanto Sudarso, CSA. (Penulis, ahli di bidang keuangan pasar modal), Mattheus Raharja, S.E, M.Si. (Brand Manager Produk Reksa Dana Indo Premier), Ipan Hutabarat, SE. (Fund Manager, MNC Asset Management) hari itu yang akan menjelaskan tentang kapan waktu yang tepat untuk berinvestasi reksa dana.

Rupiah tahun ini cukup stabil, karena kita sudah tidak terlalu bergantung pada investasi asing.
Ketika diberi pertanyaan, mana yang lebih baik? Mata uang melemah atau menguat? Untuk negara yang kuat ekspornya, biasanya akan lebih memilih mata uangnya melemah. Tapi untuk Indonesia akan lebih baik apabila mata uang rupiah yang menguat, karena kita termasuk negara yang cukup konsumtif.

Nah, untuk memulai investasi di reksa dana, ada baiknya kita memperhatikan faktor-faktor yang berpengaruh pada harga reksa dana.

A. GDP - Gross Domestic Product
GDP merupakan salah satu indikator ekonomi suatu negara, kalau dijabarkan GDP adalah nilai pasar semua barang dan jasa yang diproduksi di suatu negara dalam jangka waktu tertentu. Cara mengetahui GDP cukup mudah kok, cukup buka di www.trendingeconomics.com untuk tahu tampilah data ekonomi setiap negara secara real. Negara Indonesia di tahun 2019 ini masih termasuk bagus untuk berinvestasi, termasuk kalau ingin mulai investasi reksa dana.

B. Inflasi
Tingkat inflasi sangat bergantung pada suku bunga. Jadi ketika suku bunga turun, para investor akan mencari opsi lain selain deposito. Ya intinya akan mencari investasi yang lebih menguntungkan untuk mereka. 

C. Manufacturing PMI (Purchasing Manager Index)
Pertama kali mengenal istilah di atas di acara ini. Jadi ternyata Manufacturing PMI adalah indikator kondisi pasar di suatu negara. Gunanya untuk melihat apakah kondisinya sedang ekspansi, stagnan atau menurun. 

Pada prinsipnya reksa dana merupakan dana yang dikumpulkan dari beberapa investor yang nantinya akan dikelola oleh pihak ketiga. Penempatan dana-dana tersebut nantinya bisa ke dalam investasi seperti berikut.
1. Reksa dana pasar uang
2. Reksa dana pendapatan tetap
3. Reksa dana campuran
4. Reksa dana saham

Reksa Dana untuk Investor Pemula
Salah satu rekomendasi reksa dana yang bisa dibeli oleh investor pemula dari acara kemarin adalah produk dari MNC Management. Perusahaan investasi MNC Asset Management memiliki produk reksa dana dengan sepak terjang yang cukup lama di pasar modal Indonesia oleh karena itu cocok untuk investor reksa dana pemula. Salah satu produk unggulannya adalah MNC Dana SBN, yang portofolionya dialokasikan ke Surat Berharga Negara atau SBN.


Investasinya pun mudah cukup melalui aplikasi yang dibuat oleh Indopremier. Indopremier menawarkan aplikasi IPOTGO dan IPOTPAY yang dapat diunduh di Play Store dan App Store. Cukup dengan modal investasi Rp. 100.000 setelah registrasi 1 jam langsung jadi, kamu sudah bisa berivestasi di pasar modal saham maupun reksa dana. Kita bisa memilih dan membeli 255 produk reksa dana dari 40 Manajer Investasi yang bebas biaya admin dan bisa tukar secara instant alias lintas produk reksa dana. Selain itu kita juga bisa menikmati fitur evaluator dari seluruh produk reksa dana, investasi berkala, penempatan tetap, campuran dan saham. 


-->
Jadi, sudah siap berinvestasi di reksa dana?



-->

Gudeg, Perjalanan Lima Ratus Tahun dari Alas Mentaok hingga Penjuru Dunia

Ada yang pernah makan gudeg? Sebagai anak kelahiran Jogja, saya sudah khatam dengan rasa Gudeg. Bukan melebih-lebihkan, karena Gudeg memang makanan pagi, siang dan malam bagi masyarakat Jogja. Makanan berbahan dasar nangka muda yang dimasak dengan santan ini adalah kuliner terkenal dari Jogja, sepopuler Malioboro atau Kraton itu sendiri. Gudeg disajikan bersama kuah areh, sambal krecek (kerupuk kulit sapi), ayam opor, tempe/tahu bacem serta telur bebek pindang. Gudeg sangat nikmat jika dimasak dalam kuali tanah di atas api kayu bakar. Panas yang merata dan stabil membuat bumbu rempah meresap ke dalam daging buah nangka.

Gudeg dan Bumbu Penyusun (Sumber : Ruang Budaya )

Meski berbahan seadanya dari alam, ternyata banyak sekali manfaat yang terkandung dari makanan Gudeg ini. Bahan utama nangka memiliki kandungan serat yang baik untuk mengobati sakit sembelit. Gula sederhana (fruktosa) yang ada dalam nangka dapat langsung disintesis menjadi energi oleh tubuh kita. Tak hanya itu, serat nangka juga dapat menghalau zat karsinogen (penyebab kanker) di dalam usus besar. Selain bahan nangka muda, Gudeg juga bisa dibuat dari manggar (putik buah kelapa). Menurut salah seorang pakar kecantikan jawa, Ibu Mooryati Soedibyo bahan manggar dipercaya dapat memunculkan kecantikan luar dan dalam atau klimis (dalam istilah Jawa).

Bicara tentang sejarah Gudeg, seolah kita akan menelusuri lorong waktu. Ada versi cerita tutur yang menceritakan gudeg berasal sejak jaman pendirian kerajaan Mataram Islam pada tahun 1500-an. Jadi saat prajurit sedang babad alas Mentaok, mereka bertahan hidup dengan makanan seadanya dari tanaman hutan. Suatu ketika mereka mencoba campuran nangka muda dan santan kelapa. Namun karena kelelahan, masakan kelamaan dipanaskan di atas tungku hingga teksturnya menjadi sangat empuk. Tak disangka hal itu justru memunculkan cita rasa  enak yang kita kenal sebagai rasa Gudeg sekarang. Tiga ratus tahun kemudian, dalam babad Serat Cethini (1820-1823) nama gudeg dituliskan sebagai salah satu sajian makanan khas budaya Jawa yang akan diberikan kepada tetamu yang datang ke rumah. Sajian tetamu terdiri dari makanan pokok, sayur (jangan), minuman dan aneka buah. Gudeg disebut sebagai salah satu contoh jangan bersama dengan jangan asem kalenthang, jangan gori, dan jangan kluwih.

Gudeg Manggar tersedia setiap akhir pekan di Kopi Tiam Oey Jogja (Sumber : Pemilik KTO Jogja)

Sebagai penguat bahwa gudeg sudah ada sejak jaman Mataram Islam adalah cerita dari nenek saya yang berasal dari Bantul. Beliau pernah bercerita soal Gudeg Manggar, yang ternyata ini adalah makanan simbol perlawanan rakyat di bawah kepemimpinan Ki Ageng Mangir Wonoboyo. Mangir adalah tanah perdikan yang sudah ada sebelum kerajaan Mataram berdiri. Meskipun sama-sama keturunan Prabu Brawijaya V, karena merasa lebih dahulu berada di tempat itu makanya beliau enggan tunduk pada kekuasaan Panembahan Senopati. Jika Mataram memakai nangka muda sebagai bahan gudeg, maka Mangir 'melawan' dengan memakai manggar sebagai bahan Gudeg. Gudeg Manggar sekarang bisa dijumpai di Yogyakarta, meskipun konon Gudeg Manggar dari daerah Mangiran tetaplah juaranya.

Lima ratus tahun kemudian Gudeg menjadi terkenal sebagai makanan khas di bekas kerajaan Mataram Islam, kota Jogja. Para legenda Gudeg di kota ini menyajikan cita rasa Gudeg yang memuaskan selera para penikmat kuliner. Di utara kampus UGM yang kini disebut sebagai sentra kuliner Gudeg terdapat Gudeg Bu Amad yang mengusung rasa manis asli khas Jogja, manisnya ini didapat dari paduan gula kelapa di dalam ramuan masakan Gudeg. Tepat dibelakangnya, ada Gudeg Yu Djum yang bertempat di rumah tua dengan hiburan musik keroncong, membuat suasana seolah terlempar ke dekade 80-an.

Mari berkeliling Gudeg di Jogja (Sumber : Bu Amad, Gudeg Permata, Gudeg Yu Djum, Gudeg Janturan)

Bagi yang suka rasa gurih bisa mencoba Gudeg Permata, yang terletak di dekat bekas bioskop "Permata" yang pernah berjaya tahun 80-an. Selemparan batu dari Gudeg Permata, ada Gudeg Janturan yang buka mulai jam 11 malam dengan ciri khas berjualannya di dapur berjelaga hitam. Pernah mendengar Gudeg Bu Tjitro,  yang menjual Gudeg sejak tahun 1925? Generasi penerusnya kini membuka outlet di depan bandara Adisucipto Yogyakarta. Yang terakhir, bila kamu ingin menikmati deretan warung Gudeg yang berada di lingkungan Kraton bisa mampir ke daerah Plengkung Wijilan, lokasinya ada di wilayah timur keraton yang merupakan pelopor Gudeg modern di Jogja.

Melalui pariwisata Jogja, Gudeg ikut dikenal luas di dunia. Sayangnya karakter gudeg yang mudah basi, membuatnya tidak bisa dijadikan oleh-oleh jarak jauh. Gudeg kendil (tembikar tanah) atau besek (anyaman bambu) yang biasa menjadi kemasan Gudeg hanya mampu membuat Gudeg bertahan 2-3 hari saja. Namun kini penggemar Gudeg tidak perlu risau lagi karena sudah ada Gudeg kalengan yang memungkinkan Gudeg menyebar ke seluruh dunia karena bisa bertahan hingga satu tahun lamanya. Di Jogja sendiri ada Gudeg Bu Tjitro, Gudeg Bu Lies dan Gudeg Mbak Yayah sebagai pelopornya. Kebetulan pemilik Gudeg Mbak Yayah ini teman saya sendiri, Chumairo Ibnatul Arobiyah, yang menurut pengakuannya ada yang membawa gudeg kaleng sampai ke Arab untuk naik haji, ada pula yang pernah membawa sampai Jerman dan Belanda. Gudeg kalengan Bu Tjitro bahkan sudah sampai ke Jepang dan Amerika.

A photo posted by Lingling (@lindaleenk) on

Gudeg memang bukan hanya sebuah resep kuno nangka muda bercampur santan, atau simbolisasi perlawanan Ki Ageng Mangir dengan Gudeg manggar-nya. Lebih dari itu, Gudeg adalah tradisi tentang nilai kesederhanaan orang Jawa yang memanfaatkan bahan alam, dibumbui kesabaran dan ketekunan (memasaknya yang butuh waktu berjam-jam), sekaligus membuktikan (sekali lagi) tentang kemampuannya beradaptasi melintasi zaman dan kini bisa dinikmati di seluruh dunia. Gudeg mendunia tidak harus dengan membuka lesehan di trotoar Tokyo atau New York, bisa dengan kemasan kaleng modern yang menyajikan bahan dari alam Indonesia yang diracik tangan simbok-simbok di pojokan Pasar Beringharjo.

Inovasi Gudeg Kaleng sebagai jawaban agar Gudeg mendunia (Sumber : Pemilik Gudeg Yayah)

Lima ratus tahun lebih, gudeg ada dalam budaya Jawa merupakan catatan panjang yang tak terbantahkan bahwa gudeg adalah kuliner penyintas zaman, hadir dan bertahan setua peradaban budaya manusia itu sendiri.

-------------------------
Hmm... Jadi ingin makan gudeg, yuk!